Insight

News

#minyakmentah#treding - PT. Midtou Aryacom Futures
Minyak Menguat Saat Konflik Meluas, Beban Impor Energi Global Meningkat

Harga minyak kembali menguat pada Kamis, dengan Brent naik lebih dari 1% ke atas US$82/barel dan WTI mendekati US$76/barel, memperpanjang kenaikan sepekan ini ketika konflik AS–Iran memasuki fase yang lebih luas dan sulit diprediksi.

Eskalasi terbaru dipicu laporan bahwa kapal selam AS menenggelamkan kapal perang Iran IRIS Dena di lepas pantai Sri Lanka peristiwa yang memperluas area konflik dari Teluk ke Samudra Hindia. Reuters melaporkan serangan tersebut menewaskan puluhan awak dan memicu operasi pencarian serta penyelamatan oleh otoritas Sri Lanka.

Di Teluk, sumber tekanan harga minyak bergeser dari sekadar “headline” menjadi isu pasokan dan arus fisik. Laporan-laporan terbaru menunjukkan krisis ini menghambat pergerakan komersial melalui Selat Hormuz, setelah IRGC mengancam akan menyerang kapal yang mencoba melintas. Ketika pasar mulai menilai hambatan pengapalan sebagai risiko yang nyata bukan hipotetis premi risiko pada minyak dan biaya logistik ikut meningkat.

Washington, pada saat yang sama, berupaya menahan shock energi agar tidak menyebar lebih jauh. Sejumlah laporan media menyebut Presiden Donald Trump menawarkan skema asuransi risiko dan pengawalan angkatan laut untuk kapal komersial di rute Teluk, sementara pemerintah menyiapkan langkah stabilisasi untuk menjaga fungsi pasar energi kawasan.

Dampak ke ekonomi global: jalur inflasi, pertumbuhan, dan kebijakan moneter

1) Inflasi global berisiko “naik lagi” lewat energi dan transport.
Kenaikan minyak biasanya cepat menular ke biaya BBM, listrik, logistik, dan harga barang (karena ongkos angkut). Dampaknya paling terasa pada negara pengimpor energi dan sektor yang intensif bahan bakar (transportasi, petrokimia, manufaktur tertentu).

2) Risiko pertumbuhan melambat meningkat, terutama di ekonomi pengimpor energi.
Energi yang lebih mahal bertindak seperti “pajak” bagi konsumsi: menekan daya beli rumah tangga dan margin perusahaan. Jika gangguan pengapalan bertahan, biaya input dan keterlambatan pasokan dapat memperlemah aktivitas industri lintas kawasan.

3) Bank sentral menghadapi trade-off yang lebih rumit.
Lonjakan energi membuat proses disinflasi kurang mulus. Banyak otoritas moneter bisa terpaksa lebih berhati-hati untuk melonggarkan kebijakan bahkan ketika pertumbuhan melemah karena risiko inflasi “menempel” lebih lama.

4) Kanal keuangan: risk-off, dolar cenderung menguat, biaya pendanaan EM naik.
Saat ketidakpastian geopolitik dan energi meningkat, pasar global sering bergerak defensif: aset berisiko tertekan, volatilitas naik, dan permintaan likuiditas dolar menguat. Imbasnya, biaya impor energi dalam mata uang lokal bisa makin berat bagi sejumlah emerging markets.

5) Shipping & asuransi menjadi indikator kunci, bukan sekadar harga spot minyak.
Jika hambatan Hormuz berlanjut, biaya war-risk insurance, rerouting, dan keterlambatan kapal dapat memperpanjang tekanan harga komoditas energi dan non-energi bahkan jika produksi fisik tidak turun drastis.(Cp) Newsmaker.id

By Admin Midtou
on 2026-03-05, 10:08